11 Tren yang Akan Membentuk E-commerce Asia Tenggara di Tahun 2017

Trend ecommerce asiaDi saat presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, sedang bekerja keras untuk menghentikan langkah Cina menjadi kekuatan adidaya dunia, nyatanya negeri tirai bambu ini belum memperlambat hegemoni digitalnya di Asia Tenggara—saat berbicara tentang Cina, tentu saja Alibaba termasuk di dalamnya. Setelah menobatkan Asia Tenggara di posisi puncak masa keemasan e-commerce dalam temuan kami di tahun 2015, Jack Ma dan timnya memasuki kawasan ini empat bulan setelahnya dan membeli Lazada, perusahaan e-commerce terkemuka di Asia Tenggara, dengan nilai US$1 miliar (sekitar Rp13,3 triliun).

Kesepakatan Lazada-Alibaba, yang disebut-sebut sebagai akuisisi luar negeri terbesar Alibaba hingga saat ini, adalah sebuah peristiwa penting bagi Asia Tenggara. Implikasi dari akuisisi ini bahkan memengaruhi rantai nilai e-commerce, mulai dari periklanan digital, logistik, keuangan, asuransi, bahkan pelayanan kesehatan.

Kilas balik ke tahun 2016

Bahkan tanpa akuisisi Lazada, tahun ini tetap terbukti penting untuk e-commerce di kawasan ini. Industri fast-fashion (fenomena industri fesyen yang mempercepat proses produksi demi menciptakan tren baru yang cepat dan murah) mengalami penurunan. Bahkan perusahaan fesyen Zalora besutan Rocket Internet berakhir dengan pembelian murah oleh konglomerat ritel Thailand, Central Group.

Masalah yang dialami perusahaan logistik asal Singapura Singpost masih berlanjut. Setelah kehilangan Group CEO Wolfgang Baier secara mendadak di tahun 2015, perusahaan ini juga kehilangan COO, CFO dan komisaris grup yang mengundurkan diri di tengah-tengah skandal kepemimpinan perusahaan. Hal ini mendorong kembali kesepakatan perusahaan ini dengan Alibaba untuk ketiga kalinya dan tidak mencapai kesepakatan hingga bulan Oktober.

Di seluruh kawasan, e-commerce B2C beraset besar menderita. RedMart asal Singapura diakuisisi oleh Lazada setelah tidak bisa lagi mengalirkan uang. Sementara itu, iTruemart milik Ascend Group menutup bisnisnya di Filipina hanya beberapa bulan setelah mengumbar akan menjadi pemain e-commerce regional pertama dari Thailand pada 2017.

Raksasa e-commerce asal Jepang Rakuten menarik diri dari Asia Tenggara dan menjual bisnisnya di Thailand kembali ke pendiri aslinya. Moxy berpindah dari e-commerce tradisional massal saat merger dengan startup asal Indonesia, Bilna. Merger Moxy dan Bilna ini akhirnya membentuk Orami yang fokus menyuguhkan konten bagi perempuan dan berhasil mendapat suntikan dana dari Co-Founder Facebook Eduardo Saverin.

Meminjam istilah Jack Ma, jika 2016 serupa makanan pembuka, maka tahun 2017 akan menjadi hidangan utama untuk e-commerce di Asia Tenggara. Dengan hadiah utama sebesar US$238 miliar (sekitar Rp3,2 kuadriliun) dan Amazon yang telah siap memasuki Singapura pada kuartal pertama, menunjukkan betapa menariknya dinamika e-commerce tahun ini.

Permainan dimulai!

Raksasa akhirnya terbangun: Alibaba menjadi lebih aktif pasca mengakuisisi Lazada

Bisa dibilang pencapaian terbesar e-commerce di Asia Tenggara tahun ini adalah akuisisi Lazada oleh Alibaba seharga US$1 miliar (sekitar Rp13,3 triliun). Namun sayangnya, tidak banyak aksi yang muncul ke permukaan setelah akuisisi tersebut. Hal ini akan segera berubah, dan Alibaba akan segera memperkenalkan seluruh ekosistem e-commerce mereka ke Asia Tenggara di tahun mendatang. Ekosistem ini  terdiri dari beberapa nama seperti Ant Financial, Cainiao dan program Taobao Partner (TP).

Diluncurkan di Cina tujuh tahun yang lalu, program TP bertujuan untuk mendaftarkan para pemasok untuk menyediakan layanan yang berhubungan dengan e-commerce untuk para penjual di Taobao. Beberapa rekanan TP seperti Baozun dan Lili & Beauty menawarkan layanan operasional toko dan pergudangan yang memungkinkan Taobao dan Tmall tumbuh sebagai dua platform e-commerce terbesar di Cina.

Peluncuran terdekat dari program serupa di Asia Tenggara (Lazada Partner?) akan menciptakan banyak kesempatan untuk seluruh ekosistem, mulai dari agensi digital hingga perusahaan pengiriman. Layanan e-commerce enabler seperti aCommerce dan SP eCommerce berada di posisi yang baik untuk terus mendorong pertumbuhan e-commerce di Asia Tenggara dengan nilai US$238 miliar (sekitar Rp3,2 kuadriliun).

Logistik last-mile akan menjadi komoditas, dipercepat oleh jaringan Cainiao milik Alibaba

Logistik sering dianggap sebagai hambatan terbesar bagi pertumbuhan e-commerce di Asia Tenggara dan karenanya telah mendorong cukup banyak pendanaan modal ventura. Dari sinilah lahir startup di bidang logistik last-mile (perpindahan barang menuju tujuan akhir, yakni ke rumah konsumen) dan pengiriman on-demand seperti Ninja Van, Sendit milik Ascend Group, dan Skootar. Bahkan aplikasi pemanggil taksi dan ojek seperti GO-JEK dan Grab pun telah merambah ke layanan pengiriman demi menambah aliran pendapatan baru. Semua hal ini menambah tekanan kepada pemain-pemain lama seperti Kerry Logistics, DHL, dan JNE yang hanya menyentuh permukaan di industri e-commerce logistik yang serba cepat.

Ekosistem baru yang terfragmentasi dan sangat kompetitif ini memiliki kesamaan dengan Cina satu dekade yang lalu dan memacu Alibaba untuk meluncurkan Cainiao Network, sebuah platform terbuka yang mengumpulkan semua vendor last-mile. Pendekatan ringan aset ini memecahkan rantai terlemah Alibaba—yaitu logistik—dan memungkinkan mereka untuk memanfaatkan permintaan yang sangat besar untuk mengontrol pembicaraan.

Lebih dari tujuh puluh persen bisnis jasa logistik pihak ketiga (third-party logistics/ 3PLs) di Cina saat ini datang dari e-commerce yang sebagian besar didorong oleh Alibaba. Hal ini memungkinkan mereka untuk menetapkan standar industri dan meningkatkan kompetisi harga di antara penyedia jasa logistik last-mile, yang pada dasarnya mengubah yang para pemain ini menjadi sebuah permainan komoditas.

Alipay dan Ant Financial, didukung dengan ekosistem logistik di Asia Tenggara, mengikuti cara di Cina—pengenalan Cainiao Network hanyalah masalah waktu.

Cainiao Network adalah bagian teka-teki Alibaba yang hilang, untuk mengendalikan seluruh rantai nilai e-commerce (Bisnis model Cainiao Network)

aplikasi andaglos

Sumber: Ecommerceiq

Pertarungan first-mile: Ancaman baru untuk Google dan Facebook

Hanya sedikit orang yang sadar bahwa raksasa e-commerce seperti Alibaba dan Amazon bukan hanya sebuah ancaman bagi pesaing langsung mereka seperti JD dan Wal-Mart, tetapi juga untuk Baidu dan Google.

Dengan peningkatan pencarian produk yang berpindah dari mesin pencari dan langsung mengarah ke situs e-commerce, Alibaba dan Amazon mengguncang periklanan yang ada di internet. Di Amerika Serikat, saat ini 55 persen orang mulai mencari produk langsung di Amazon— persentase ini naik dari 44 persen di tahun 2015. Ini menjadi masalah besar karena pencarian produk adalah salah satu kategori pencarian kata kunci yang paling menguntungkan dan memiliki cost-per-click yang tinggi.

Di Cina, persaingan antara Alibaba dan Baidu telah membuat Alibaba memblokir mesin pencarian Baidu untuk ‘merangkak’ dan mengindeks halaman Alibaba sejak 2009, secara efektif mencegah pengguna pergi ke Baidu untuk mencari produk tertentu.

Pertempuran first-mile (perpindahan produk dari peritel ke layanan kurir atau pihak mana pun yang akan membawa produk tersebut ke pengguna akhir) ini diduga akan dimulai pada tahun 2017 di Asia Tenggara, ketika Alibaba bermigrasi dengan Lazada ke platform Tmall dan memperkenalkan Alimama, platform iklan self-service yang serupa dengan Google Adwords.

Para penjual di Lazada akan memiliki akses ke berbagai periklanan berbasis PPC (Pay-Per-Click), CPM (Cost-Per-Thousand Impressions) dan CPS (Cost-Per-Sale) seperti P4P milik Tmall “Express Train” PPC search ad (metode penempatan iklan online pada halaman web yang menunjukkan hasil dari permintaan mesin pencari). Iklan ini menguasai sekitar 25 persen dari total pencarian online di Cina, yang secara tradisional didominasi oleh Baidu. Untuk memberi gambaran tentang perkembangan Alibaba dalam search ad, pangsa pasar search ad Google Cina melonjak tiga puluh persen sebelum akhirnya menyerah dan keluar dari pasar Cina.

Bisnis periklanan Alibaba lebih dari sekedar pencarian. Selain Alimama, mereka juga mengoperasikan sebuah platform afiliasi bernama Taobao Affiliate Network, sebuah jaringan display ad (iklan berukuran besar yang ditampilkan di koran dan majalah, biasanya memiliki desain atau ilustrasi yang menarik) yang disebut TANX (Taobao Ad Network and Exchange) serta Data Management Platform yang merupakan kompetitor Bluekai milik Oracle dan Audience Manager dari Adobe.

Perusahaan media lebih baik mempersiapkan diri mereka untuk kompetisi baru dan agensi digital harus mulai belajar bagaimana membeli dan mengoptimalkan media dalam platform Lazada di tahun 2017.

Masuknya Alipay ke Asia Tenggara akan mendorong konsolidasi dalam sektor pembayaran online

Tahun baru akan menandai dimulainya konsolidasi dalam ruang pembayaran di Asia Tenggara. Dominasi cash on delivery (COD) – sekitar 75 persen dari transaksi e-commerce di kawasan ini – yang menginspirasi banyak startup seperti Omise dan DOKU, serta perusahaan telekomunikasi dan perbankan yang telah berdiri untuk membangun PayPal selanjutnya.

Tetapi kebanyakan dari inisiatif ini tidak menyelesaikan permasalahan utamanya, yakni kurangnya penetrasi kartu kredit dan besarnya populasi yang tidak memiliki rekening bank di Asia Tenggara. Sebagai contoh, LINE Pay hanya bisa digunakan dengan kartu kredit. Meski menarik dari perspektif PR, inisiatif ini belum menggeser cara pembayaran konsumen dari COD.

Kebanyakan ‘solusi’ di industri fintech diciptakan “demi kepentingan teknologi semata”. Ibaratnya, membuat mobil yang dapat melajut lebih cepat, padahal yang dibutuhkan masyarakat adalah lebih banyak jalan raya.

Sumber: Ecommerceiq

Kurangnya perhatian akan hal yang terpenting—yakni saluran distribusi yang scalable — bisa diprediksi perusahaan pembayaran ini harus berjuang keras di sepanjang 2017. Dengan Lazada, Alibaba menggunakan strategi kuda troya untuk membawa Alipay dan Ant Financial ke Asia Tenggara. Marketplace ini menawarkan sebuah basis pengguna yang besar dan saluran distribusi yang membuat iri banyak startup pembayaran di Asia Tenggara.

Dari “e-commerce 1.0” menuju “e-commerce 2.0”

Seperti yang telah diprediksi sebelumnya, Zalora milik Rocket Internet harus menjual bisnisnya yang ada di Thailand dan Vietnam dengan harga rendah kepada ritel lokal Central Group. Di tahun yang sama, Cdiscount Thailand, bagian dari konglomerat ritel Prancis Group Casino, terjual senilai US$31.5 juta (sekitar Rp420 miliar) ke TCC, sebuah perusahaan lokal Thailand yang juga pemilik merek bir terkenal Chang.

Kehadiran Alibaba dan kabar peluncuran Amazon di Singapura pada kuartal pertama 2017 menutup kesempatan bagi permainan “E-commerce 1.0” —yaitu mereka yang berjualan produk kepada khalayak luas. Bahkan MatahariMall telah memposisikan ulang identitas mereka sebagai sebuah e-commerce online-to-offline, bukan sebagai pesaing langsung bagi Lazada.

Memasuki tahun 2017, kesempatan di industri e-commerce akan semakin bergeser, dari “e-commerce 1.0” menuju “e-commerce 2.0”. Artinya, perusahaan tidak lagi mendasarkan keunggulan kompetitif mereka pada nilai ekonomi tradisional, namun pada proprietary pricing, seleksi, pengalaman, dan produk.

E-commerce 1.0 adalah sebuah permainan adu kekerasan dan kekuatan, sementara e-commerce 2.0 mengeksploitasi celah 1.0 dengan banyak cara kreatif untuk menghindari permainan zero-sum (suatu kondisi di mana keuntungan salah satu pihak berasal dari kerugian di pihak lainnya) dengan para raksasa seperti Alibaba dan Amazon.

Ini merupakan pertanda bagus untuk melihat perusahaan di Asia Tenggara telah mulai bergerak menuju e-commerce 2.0. Pomelo Fashion berfokus untuk membangun mereknya sendiri dan mengintegrasikan rantai pasokannya secara vertikal dengan memproduksi pakaian mereka sendiri.

Di Indonesia, startup lain mengambil ide dari penjualan di Facebook dan Instagram. Sale Stock, startup fast-fashion yang berbasis di Jakarta, telah mengambil jalan yang serupa dengan Pomelo Fashion dengan keunikannya sendiri dan sedikit eksperimen.

Dengan meningkatnya jumlah pesanan Sale Stock yang datang dari sesi chat di web mobile, perusahaan ini kemudian berinvestasi dan meluncurkan chatbot e-commerce pertama di kawasan ini untuk memproses pesanan via mobile chat di Facebook Messenger yang dibangun oleh para insinyur ‘lulusan’ Google, Palantir, dan NASA.

Lebih banyak korban dari persaingan Amazon – Alibaba di masa depan

Tahun 2016 adalah saat yang besar untuk konsolidasi e-commerce Asia Tenggara:

  • Zalora Thailand dan Vietnam dijual murah ke konglomerat ritel Thailand Central Group
  • Cdiscount dibeli oleh raksasa Thailand TCC Group milik Charoen Sirivadhanabhakdi
  • Pemain e-commerce yang berfokus ke perempuan, Moxy, kembali muncul sebagai Orami setelah bergabung dengan Bilna asal Indonesia
  • Rakuten asal Jepang menutup bisnisnya di pasar Indonesia, Malaysia dan Singapura, serta mengembalikan bisnisnya di Thailand kepada pendiri aslinya
  • Layanan pengantaran bahan pangan asal Singapura, RedMart, diakuisisi Lazada dengan nilai lebih kecil dari pendanaan terakhinya. Kabar ini muncul di tengah isu masuknya Amazon ke pasaran.

Dan hal ini akan berlanjut sepanjang tahun 2017, terutama di tengah “e-commerce 1.0” yang sangat kompetitif. Salah satu yang bisa menjadi korban besar adalah Ascend Group yang berbasis di Thailand, yang memiliki aset portofolio e-commerce dan fintech seperti Wemall (B2C) dan WeLoveShopping (C2C). Tanda-tandanya sudah terlihat.

Entitasnya di Filipina yang diluncurkan di akhir 2015, tutup tahun ini. Dengan fokus perusahaan pada fintech, mereka menjual sahamnya sebesar dua puluh persen di Ascend Money kepada Ant Financial di tahun 2016. Ascend kemungkinan akan keluar dari e-commerce ritel di tahun 2017.

Merek meninggalkan marketplaceberalih ke pendekatan langsung ke pengguna atau multi-channel

Ada banyak keuntungan yang diperoleh merek yang menjual produk mereka ke platform seperti Lazada dan MatahariMall. Merek-merek ini cukup melakukan setup yang tak memakan banyak waktu. Mereka juga mendapat akses traffic gratis yang dikumpulkan oleh marketplace. Itu sebabnya di tahun 2016 banyak merek, seperti L’Oreal dan Unilever, yang berjualan lewat platform ini.

Namun demikian, merek-merek ini mulai menyadari bahwa sisi kontra lebih besar daripada pro. Marketplace mengumpulkan sejumlah besar data mengenai kategori produk dan merek yang laku terjual. Marketplace juga mengetahui kapan, di mana, dan siapa yang membeli produk tersebut.  Amazon telah memanfaatkan informasi yang berharga ini untuk memperkenalkan label pribadi mereka yang bersaing langsung dengan para penjual di platform mereka.

Di tahun 2017 ini, kita akan melihat merek-merek semakin pintar dan akan memanfaatkan kehadiran marketplace sebagai sebuah inisiasi dan strategi jangka pendek. Strategi jangka panjangnya adalah menjual langsung ke konsumen melalui situs brand.com milik mereka di mana mereka memiliki semua data pelanggan, mengelola brand image mereka sendiri, dan bisa menawarkan fitur seperti subscription commerce (bisnis model yang memungkinkan konsumen berlangganan dan menerima contoh produk secara berkala)

Yang lain mungkin mengadopsi pendekatan multi-channel dan menggunakan marketplace untuk menjual produk dengan harga lebih rendah, sambil mempersiapkan situs brand.com sebagai saluran untuk pengalaman berbelanja yang lebih premium.

Kompetisi yang kian ketat akan mendorong para pengusaha dan perusahaan merambah ke bidang asuransi, keuangan, dan kesehatan

Dengan semakin tingginya kompetisi e-commerce dan besarnya modal yang diperlukan, para pengusaha sudah mulai melihat lebih jauh dari sekadar ritel fisik demi menemukan kesempatan baru. Mengikuti langkah yang serupa dengan AS dan Cina, startup di Asia Tenggara secara bertahap berpindah ke bidang asuransi, keuangan, dan kesehatan. Konsep dasarnya sama, yakni menggunakan internet dan teknologi untuk menciptakan marketplace atau langsung menuju ke konsumen untuk produk nonfisik seperti pinjaman, asuransi jiwa dan bahkan data.

Di tahun 2016 lalu, terlihat beberapa startup fintech baru seperti EdirectInsure—dengan frank.co.th di Thailand dan frankinsure.com.tw di Taiwan— yang mencoba untuk mengubah cara penjualan asuransi mobil. Ada pula pemain lama seperti Asia Insurance yang menawarkan asuransi mikro Pokémon Go dan mobile phone secara langsung ke konsumen lewat saluran online.

Akuisisi Lazada oleh Alibaba sendiri bukan semata-semata tentang menambah pertumbuhan jumlah barang ritel mereka. Akuisisi tersebut dilakukan demi mendapat saluran distribusi yang scalable untuk produk lain milik Alibaba yang memiliki margin yang lebih tinggi. Jack Ma menyinggung hal ini dalam pidatonya di depan para pemegang saham di tahun 2015:

Strategi grup Alibaba adalah untuk membangun infrastruktur e-commerce masa depan. E-commerce hanyalah langkah pertama. […] Sekitar setengah dari tenaga kerja Alibaba Grup dan perusahaan afiliasinya, termasuk Ant Financial dan Cainiao, bekerja di area-area penting bagi ekosistem kita, seperti logistik, internet finance, big data, cloud computing, internet mobile, periklanan dan juga industri yang berkaitan dengan kesehatan dan hiburan (bisnis kesehatan dan hiburan digital  berbasis big data akan memerlukan waktu sepuluh tahun lagi untuk menjadi data-driven)

Peluncuran layanan serupa dari Alipay dan Ant Financial (perbankan, skor kredit, reksa dana, dan lain-lain) bisa diharapkan muncul menjelang akhir tahun 2017. Selain itu, kita akan melihat lebih banyak pemain lama seperti bank tradisional, asuransi, dan bisnis kesehatan yang bergerak ke ranah online.

Terabaikan namun tidak dilupakan, perusahaan akan fokus pada bagian yang tersisa di Asia Tenggara: Myanmar

Para pebisnis secara geografis akan terus menjelajahi pasar baru di Asia Tenggara. Semakin jenuhnya pasar-pasar besar membuat lahan hijau di Myanmar lebih menarik.

Dengan total 53 juta orang penduduk, Myanmar adalah negara terbesar kelima di Asia Tenggara. Negara ini juga sangat unik jika dibandingkan dengan negara-negara tetangganya. Myanmar sempat menutup diri dari dunia hingga tahun 2011 dan saat ini tengah melompat ke era mobile. Dalam dua tahun terakhir, diperkirakan dua puluh persen populasi di sana sudah merambah ke online.

Rocket masuk ke Myanmar pada awal 2012 dengan meluncurkan situs iklan baris seperti Work.com.mm dan Ads.com.mm. Usaha e-commerce pertama mereka di Myanmar bernama Shop.com.mm dimulai pada akhir 2014. Dengan rata-rata sembilan puluh ribu sesi per bulan dalam enam bulan terakhir dan mengalami pertumbuhan yang datar, Shop.com.mm tidak terlalu memberikan gambaran positif mengenai peluang e-commerce di Myanmar.

Namun, mengingat Myanmar memiliki sepuluh juta pengguna Facebook di negaranya, mungkin pemasaran bisnis e-commerce dengan cara tradisional bukanlah pendekatan yang tepat. Memulai pemasaran bisnis dari Facebook shop mungkin menjadi cara yang lebih baik untuk memasuki pasar e-commerce masa depan yang paling menarik di Asia Tenggara.

Hal ini sudah terbukti efektif di Thailand di mana diperkirakan sepertiga sampai setengah dari transaksi e-commerce terjadi di Facebook, Instagram dan LINE. Diharapkan nantinya chat commerce bisa tumbuh lebih luas di Myanmar.

“Pengaruh Facebook di Myanmar sulit untuk diukur, namun dominasinya sangat mutlak sehingga masyarakat Myanmar menggunakan internet dan Facebook secara bergantian,” tulis Sheera Frenkel di BuzzFeed.

Layanan on-demand di Asia Tenggara akan berkurang menjadi beberapa industri, dengan model yang sebenarnya masuk akal

Setelah dipuji oleh para ahli karena tidak memiliki beban aset fisik yang mahal, model on-demand terlihat hampir berakhir di AS. Selain Uber sendiri, banyak layanan yang tutup atau sedang berjuang, beberapa di antaranya seperti Homejoy, SpoonRocket, DoorDash, dan Postmates.

Unit ekonomi yang rendah, kebocoran platform, dan ekonomi yang menguat secara umum adalah isu-isu yang mengganggu startup on-demand selama setahun terakhir.

Di Asia Tenggara, keadaannya juga tidak terlihat terlalu menggembirakan untuk beberapa startup on-demand. Happy Fresh baru-baru ini menutup operasinya di Taipei dan Manila serta melakukan beberapa pemberhentian pegawai. Mereka juga secara diam-diam menggantikan mantan pendiri dan CEO Markus Bihler dengan orang baru. Di Thailand, Tapsy, sebuah marketplace untuk layanan pribadi yang didukung Inspire Ventures, juga gulung tikar hanya beberapa bulan sejak peluncurannya.

GO-JEK, aplikasi pemanggilan ojek asal Indonesia dan kini merupakan unicorn on-demand untuk segala hal, berkali-kali ditinggal para pendirinya. Perginya Co-Founder dan VP produk mereka pada bulan Oktober lalu, memicu kecurigaan adanya gejolak internal.

Meski sentimen secara umum untuk startup on-demand mengalami keterpurukan baik secara global maupun di Asia Tenggara, pada kenyataannya ini hanya awal dari proses alami menyingkirkan para pemain yang hanya “ikut-ikutan” di vertikal model on-demand yang tidak masuk akal.

“Masalahnya bukan tentang konsep akan sesuatu yang tersedia secara on-demand. Ini tentang apakah konsumen atau sebuah bisnis akan membayar suatu pesanan secara premium untuk memiliki akses sesegera mungkin. Hanya karena kamu membuat sesuatu tersedia sesuai permintaan, itu tidak berarti orang akan membayar untuk hal tersebut,” ujar Mathew Ward, Co-Founder dan CEO Helpster, perusahaan berbasis di Bangkok yang mencocokkan pekerja dengan kandidat yang mencari pekerjaan serabutan.

Ia melanjutkan,

Home service adalah satu area yang menyenangkan untuk didapat secara cepat, namun bukan sebagai sebuah keharusan. Orang tidak akan mau membayar premium untuk hal ini, dan unit ekonomi kamu tidak akan bekerja. Itu sebabnya kita kemudian melihat banyak yang gagal dalam area ini.

Jika kamu berfokus pada hal yang mendesak seperti transportasi atau seperti kasus Helpster, akses terhadap staf berkualitas yang diperlukan untuk mengisi kebutuhan staf yang mendesak, orang-orang akan membayar harga premium, dan karena itulah kamu bisa membangun sebuah bisnis yang benar-benar bekerja. Model on-demand tidak rusak—kamu hanya perlu melihat ke area di mana kecepatan akses merupakan hal yang sangat berharga. Jika kamu berhasil menemukannya, kamu bisa membangun sebuah bisnis on-demand yang berkembang dan sukses.”

Dengan sentimen pendanaan Asia Tenggara yang bergeser di tahun 2017 dari pertumbuhan dengan segala cara menuju kepada keberlanjutan dan profitabilitas, kita tentu berharap startup on-demand berkembang di vertikal di mana model ini bekerja, sementara yang hanya “ikut-ikutan” gagal. Proses ini hanya akan dipatahkan oleh startup seperti Uber dan Grab yang akan memberikan usaha dua kali lipat di Asia Tenggara dengan peperangan mereka yang besar.

Amazon masuk ke Asia Tenggara (akhirnya)

“Mendekatlah dengan teman-temanmu, tapi kamu harus lebih dekat dengan musuhmu.”—Michael Corleone dalam The Godfather Part II.

(Sheji Ho adalah Group Chief Marketing Officer di aCommerce Asia Tenggara. Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Ecommerceiq. Isi di dalamnya telah disesuaikan dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diterjemahkan oleh Rara Kinasih dan diedit oleh Septa MellinaSumber gambar: Ecommerceiq.asia)

ABOUT SHEJI

Group Chief Marketing Officer at aCommerce
Sumber Artikel : https://id.techinasia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.